Showing posts with label WawasanMultimedia. Show all posts
Showing posts with label WawasanMultimedia. Show all posts

Thursday, May 3, 2018

TIPS BELAJAR NGEDIT DARI AWAL SAMPAI MENJADI PROFESIONAL




Hallo sahabat berbagi polosan,pada dasarnya desain mendesain pada kehidupan nyata sekarang menjadi kebutuhan pokok terutama orang orang yang bekerja di tempat yang berhubungan dengan multimedia,pasti anda berpikir? Apakah itu akan dapat menghasilkan uang dari sebatas desain? Saya akan jawab "ya, desain dalam menghasilkan uang",dan ada terbesit di pikiran ingin menjadi desainer /editor yang handal akan tetapi tak tahu mulai dari mana, nah untuk itu saya akan membantu anda dari mulai awal,sedikit sedikit,akan tetapi Untuk awal awal saya akan beri tips terlebih dahulu nih,biar kalian ngak terlalu tegang untuk memasuki dunia desain,inilah tips tips nya :


1,BELAJAR SECARA ONLINE


Hmm?maksud nya gmana ya? Jadi maksudnya gini gan ,jadi biasakan untuk belajar ,agan bisa gunain fitur sekolah desain untuk belajar mendesain ataupun agan bsa masuk ke grup grup desainer dan editor seperti Group PHOTOSHOP INDONESIA ataupun COREL DRAW INDONESIA ataupun grup grup lainya, jadi agan bisa liat referensi dari sana,agan bsa Blajar dulu meniru sedikit demi sedikit yang penting bisa terasah skillnya,ingat Abaikan Ocehan Yang membuat agan down Dan Tanggapi Kritikan yang membangun Itu bisa Memotivasi agan untuk menjadi lebih baik lagi

2. BELAJAR SECARA OFFLINE

Yang tadi online ,nah sekarang beralih ke offline,agan bsa minta bantuan ke temen atau pun dosen/guru desain agan supaya sedikit di sharing ilmunya karena menurut saya belajar secara offline Seperti itu akan terasa lebih cepat di banding belajar online karena kalau salah kita bisa bertanya beda hal lagi kalo online ,jujur kalo salah harus Ngepost dulu gan!lama lagi kalo blum di acc sedangkan Kita Lagi stay Di komputer tak bisa berlama lama nunggu grup nya blum di acc,jujur belajar offline tuh harus banyak nanya gan biar ngak gaptek.

3.KENALI DARI AWAL TUJUAN JADI DESAINER / EDITOR

Kenali dulu gan,apa tujuan agan jadi desainer atau editor, apakah niat agan pengen dapet uang dari desain hingga Jadi bisa di komersialkan atau Niat agan pengen terkenal seperti Mas syahril? Atau hanya ingin belajar saja? Itu yang menentukan agan sendiri karena kebanyakan desainer itu salah arah,Karena tiap orang itu beda tujuan nya,semisal kalo tujuan agan pengen jadi desainer profesional yang ingin menghasilkan uang dari desain, agan harus memperhitungkan semua yang dibutuhkan agan seperti harga,minim order,akun promosi, website dan lain lain.dan itupun secara tidak langsung dapat menunjukan keseriusan dalam diri agan.


4.Dari Dasar Ke Permukaan

Hmmm,Maksudnya Gimana nih gan?,jadi Maksudnya gini,agan belajar dari awal jangan dari tengah, belajar secara bertahap dari mulai perkenalan tool,Jenis warna, Format, dan lain lain,Ingat!  Fokus Dalam Usaha Itu Adalah sebuah keharusan ,Abaikan Ocehan Orang lain,anda disini belajar untuk kebaikan agan bukan? Oleh karena itu belajar lah dari bawah lalu merangkak Ke permukaan supaya Ilmu agan bisa Agan simpan atau pun share kepada orang lain,kan itu pun bisa bernilai pahala.

5.Mulai Berkarya

Kenapa agan harus memulai berkarya? Ingat gan!  Ini hanya bukan soal teori ,setelah agan belajar dari awal teori dan menguasai nya saat nya gan berkarya untuk melatih skill dalam praktek minta bantuan lah kepada teman dekat untuk membimbing atau Menilai karya agan supaya agan pun melihat Apa yang dirasakan orang lain saat melihat karya agan ,bilang ke temen agan kalau jelek Tolong beritahu harus nya gmana, kalau bagus tolong cara mempwebagus nya lagi gmana, buat lah desain agar menjadi karya yang 99% Sempurna, Kenapa ngak 100% karena kesempurnaan hanya Milik allah semata :'v eaaaa

6.MENCARI REFERENSI


carilah referensi untuk menambah ide agan, biasanya saya nyari ide devian art, Instagram, maupun di web web desain sobat saya, biasanya ide akan muncul saat ada gambar menarik muncul di depan layar monitor saya,biasanya saya langsung menulis di notepad untuk menjabarkan desain yang saya ingin kan, dan insya allah desain agan pasti akan bagus bila di sertai hati dalam Mendesain nya

Oke gtu aja gan yang dapat saya share ke agan untuk selebih nya agan Bisa share Cari referensi Lain Untuk Menambah pengetahuan agan tentang desain akhir kata wassalamualaikum warahmutllahi wabrakattuh

Sunday, April 8, 2018

Cara Membuat Tulisan Berbentuk Love Cantik Secara Online

Pertama-tama kunjungi situs text effect generator, yaitu Glowtxt.com. ketika sudah sampai dihalamannya, sobat langsung bisa melihat pengaturan efek teksnya. namun sebelum memulai, coba scroll kebawah, untuk melihat-lihat efek apa saja yang tersedia.

Sebenarnya bukan cuma efek love saja yang ada, disitu juga ada efek teks lainnya. karena tema hari ini Love, maka itu saja yang dijadikan contohnya. kalau sudah tahu, pasti selanjutnya bisa membuat efek lainnya.

Pengaturan :

Pertama pilih efek yang mau diterapkan pada tulisan. bisa pilih klik salah satu gambar preview bagian bawah, bisa juga pilih ditulisan heartbeat. jika sudah, masukka teks pada kolom sebelah kanan. klik Make Text. lihat hasilnya.

Kalau mau mengatur efeknya,silahkan otak atik kolom sebelah kiri. pada bagian atas terdapat pengaturan ukuran teks, Tiny (kecil sekali), Mini (lumayan kecil), Small (kecil) Large (besar) dan Extra (paling besar). klik untuk menerapkannya.

Animation, kalau mau teks menjadi animation pilih Pulse atau Sweep. jika tidak mau, pilih None.
Glow Effect, ini adalah cahaya yang akan keluar dari bentuk teks. 
Background, warna latar. sementara, kotak-kotak dibawahnya adalah tekstur yang akan menyelimuti teks.

Bagaimana ? kerenkan. walaupun tanpa aplikasi, namun sudah bisa dipamer ke teman-teman. saya yakin, yang cewek pasti suka sekali sama tulisan seperti ini.

Sekian dulu tutorial Cara Membuat Tulisan Bentuk Love Cantik Secara Online. semoga bisa bermanfaat. update terus tutorial efek teks terbaru setiap harinya. terima kasih dan Salam Grafis-Media. Assalamualaikum.

Thursday, October 19, 2017

PENGERTIAN GRAFIS BERBASIS VECTOR DAN BERBASIS BITMAP

Pengertian grafis atau graphic yaitu meliputi gambar dan pencitraan lain yang dihasilkan komputer, berbentuk garis, lengkungan,kurva dan sebagainya. Komputer dapat menghasilkan pencitraan dalam sejumlah pixel, dan printer dot matrix akan mencetak citra/gambar tersebut dalam sejumlah titik. Dalam olah grafis digital ada dua jenis gambar, yakni gambar raster (bitmap based) dan vektor (vector based). Foto tergolong gambar raster atau bitmap. Bitmap adalah sebuah image grafis yang disusun dari pixel-pixel dan dikonversikan ke dalam bits. Biasa digunakan dalam Microsoft Windows. Gambar bitmap artinya adalah suatu gambar dipecah-pecah menjadi grid-grid (petak-petak). Sedangkan nilai-nilai lainnya misalnya warna, gelap/terang, dan lain-lain dari setiap pixel dari grid disimpan secara tersendiri. Format bitmap adalah metode yang paling umum digunakan karena lebih mudah diimplementasikan dan diterapkan untuk semua tipe gambar. Pengertian yang diberikan dari adobe photoshop dalam menjelaskan arti dari bitmap adalah sebagai berikut : Bitmap Images are sometimes called "paint graphics." That's because bitmap images tend to be used for photo-realistic images and for complex drawings requiring fine detail. A bitmap is simply a matrix of pixels...or a "grid" of pixels. Each pixel used to create a shape or object in the image is referenced. You edit groups of pixels instead of shapes (as in vector images). The main advantage of bitmap images is: They are able to accurately represent the wide range of colors and shades in complex images. Sedangkan untuk vector didevinisikan sebagai berikut : Vector images are used to define a line that has end points. The coordinates of where the straight line begins and ends are computed without needing to define all the points in between. A rectangle might be defined as follows: 125, 125, 300, 300. This means that the top left corner is at the coordinate 125 X 125 (125th pixel horizontally X 125th pixel vertically) and the bottom right corner is at 400 X 300 (400th pixel horizontally X 300th pixel vertically). Vector imagestend to be used for lines, boxes, circles, polygons and other graphic shapes that can be mathetically expressed in coordinates on a computer screen. The program always references the shape itself...not each individual pixel that makes up the shape. Gambar vektor artinya adalah suatu gambar dilukiskan sebagai suatu rangkaian dari garis-garis atau bentuk-bentuk.       Biasanya kata vektor hanya berkaitan dengan garis tetapi di sini pemahaman dari berkas-berkas vektor juga termasuk bentuk-bentuk seperti bujursangkar, lingkaran, dan sebagainya. Format bitmap sangat sesuai untuk gambar-gambar dengan warna, bayangan, atau bentuk-bentuk yang sangat bervariasi dan kompleks seperti foto, lukisan, dan lain-lain. Format vektor sangat sesuai untuk gambar-gambar garis misalnya gambar CAD (Computer Aided Design), grafik dan gambar-gambar dengan bentuk-bentuk, bayangan, dan pewarnaan yang sederhana. Karena gambar bitmap dapat dipecah-pecah menjadi petak-petak maka format bitmap merekam gambar sesuai dengan keinginan sejauh masih bisa diterima mata manusia. Gambar bitmap mempunyai beberapa masalah. Salah satunya adalah ukuran gambar. Suatu berkas gambar bitmap berwarna dengan resolusi tinggi bisa memerlukan media penyimpanan berukuran beberapa megabyte. Karena alasan inilah maka pemampatan berkas dengan format bitmap menjadi sangat penting. Sedangkan untuk memanipulasi gambar bitmap, yang telah diketahui bahwa datadatanya berukuran besar, menuntut tersedianya prosesor yang lebih cepat dan bus data internal yang lebih besar. Bahkan untuk gambar-gambar berwarna dengan kualitas setara foto membutuhkan workstation grafik atau komputer personal berteknologi tinggi untuk mendapatkan waktu tanggap yang masih bisa ditoleransi. Penggunaan komputer dengan bus internal 32-bit menunjukkan unjuk kerja yang jauh lebih baik dibandingkan penggunaan bus internal 16-bit. Masalah lain dari gambar-gambar bitmap adalah tingkat fleksibilitas yang rendah. Salah satunya ialah tidak adanya hubungan antara pixel-pixel gambar. Masalah fleksibilitas gambar bitmap lainnya adalah penggunaan resolusi yang tetap. Misalkan suatu gambar bitmap yang dipecah-pecah menjadi pixel-pixel, resolusinya ditetapkan menurut X pixel ke kanan dan Y pixel ke bawah. Maka bila gambar diperbesar, pixel-pixelnya menjadi cukup besar untuk terlihat sebagai bentuk-bentuk persegi empat, yang menimbulkan efek diasing atau staircasing. Program grafik yang pandai bisa mengatasi masalah ini dengan cara menginterpolasi garis untuk pixel-pixel tersebut, tetapi proses ini membutuhkan banyak waktu. Gambar vektor mempunyai lebih banyak batasan dibanding

gambar bitmap dalam hal bentuk-bentuk yang bisa ditampilkan, tetapi keuntungannya adalah lebih efisien dan lebih fleksibel untuk banyak aplikasi. Sebagai contoh, suatu garis lurus dapat diwakili oleh hanya dua titik ujungnya. Suatu lingkaran dapat diwakili hanya oleh titik pusat dan jari-jarinya. Beberapa istilah yang biasa kita gunakan dalam editing graphic adalah sebagai berikut : pixel, resolusi dan intensitas. Pixel adalah kumpulan dari ribuan titik titik yang sangat kecil dan tiap tiap titik tersebut memiliki warna tertentu. Resolusi Merupakan Jumlah pixel yang ada per centimeter. Resolusi menentukan kualitas dari gambar yang dihasilkan. Sedangkan intensitas merupakan jumlah warna yang boleh dimiliki oleh suatu gambar, misalnya : 256 colour, high colour, true colour (16 juta warna), gray scale (abuabu), hitam putih. File berekstensi .jpg memiliki 16 juta warna dan File berekstensi .gif memiliki 256 warna.


Saturday, September 16, 2017

Tehnik Pencahayaan Dalam Fotografi [Seni Fotografi]



B. Teori Pencahayaan

Agar sebuah foto dapat tercipta, film yang ada di dalam kamera yang kedap cahaya harus disinari. Untuk memperoleh pencahayaan yang tepat pada saat memotret, proses masuknya cahaya ke dalam film harus diatur.

Pengaturan cahaya yang masuk ke dalam film dapat diibaratkan dengan mengisi air ke dalam ember dari keran. Jika keran dibuka sebesarbesarnya, ember akan cepat penuh. Sebaliknya, jika keran dibuka sedikit, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ember pasti lebih lama.

Demikian pula pada proses pemotretan. Keran diibaratkan sebagai bukaan diafragma, sedangkan rana diibaratkan lamanya waktu mengisi ember. Makin besar bukaan diafragma, makin sedikit waktu yang diperlukan rana untuk membuka. Sebaliknya, makin kecil bukaan diafragma, makin lama waktu yang dibutuhkan rana untuk membuka.

Pencahayaan yang tepat diibaratkan dengan seberapa besar ember yang digunakan. Untuk sebuah ember yang sama, terdapat korelasi yang pasti antara besarnya bukaan keran dan lamanya mengisi ember. Dengan keran yang dibuka penuh, ember akan penuh dalam waktu satu menit. Jika keran dibuka separonya, ember akan penuh dalam waktu dua menit demikian juga dengan kombinasi lainnya.

1. Diafragma dan rana

Istilah pencahayaan atau eksposur digunakan untuk menentukan kuantitas cahaya yang direkam film. Pengaturan cahaya dapat dilakukan dengan mengontrol bukaan diafragma dan kecepatan rana. Besarnya
bukaan diafragma menentukan jumlah cahaya yang diteruskan ke film, _ sedangkan kecepatan rana menentukan lamanya waktu yang diperlukan untuk mencahayai film. Kombinasi dari besarnya bukaan diafragma dan kecepatan rana merupakan jumlah cahaya yang dipantulkan dari objek dan kecepatan film yang digunakan.

Berbagai kombinasi dari bukaan dan kecepatan rana memberikan pencahayaan yang sama, misalnya pengukur cahaya kamera menunjukkan kombinasi 1/125 detik, (78. Jika mengubah bukaan diafragma satu st0p lebih kecil menjadi f/ll maka kuantitas cahaya yang masuk ke kamera akan berkurang setengah kali. Agar diperoleh nilai pencahayaan yang sama harus diimbangi dengan kecepatan rana lebih lambat satu step, yaitu 1/60 detik. Sebaliknya, jika bukaan diafragma diperbesar satu st0p f/5,6 maka kecepatan rana harus dipercepat menjadi l/ZSO detik.

2. Kecepatan Film

Selain diafragma dan rana, kecepatan film juga berpengaruh dalam proses pencahayaan. Kecepatan film berarti kepekaan film terhadap cahaya. Kecepatan film dinyatakan dengan ISO (International Standard Organization) atau ASA (American Standard Association). Bilangan lSO mengindikasikan seberapa besar kepekaan film terhadap cahaya. Makin kecil angka ISO, makin rendah kepekaannya terhadap cahaya. Sebaliknya, makin tinggi angka ISO, makin peka film tersebut terhadap cahaya.

Pencahayaan merupakan unsur dasar dari fotografi. Tanpa pencahayaan yang Optimal, suatu foto tidak dapat menjadi sebuah karya yang baik. Pengetahuan tentang pencahayaan mutlak harus dikuasai oleh seorang fotografer. Cara mempelajari penguasaan pencahayaan adalah dengan melatih mata untuk lebih peka terhadap cahaya yang muncul.

A. Cahaya Alam (NaturalLight /Available Light)

Cahaya alam adalah Sumber cahaya utama dalam pemotretan luar ruang (outdoor). Sumber cahaya.alam berasal dari matahari dan bendabenda angkasa yang mampu memantulkan cahaya, seperti bulan.
Dalam prakteknya, cahaya alam hampir tidak mungkin dikontrol (kalaupun bisa hanya sebagian kecil saja). Namun, Anda dapat memperkirakan kapan waktu yang paling baik untuk melakukan pemotretan sesuai dengan konsep pemotretan yang Anda inginkan untuk mendapatkan pencahayaan yang terbaik. Khusus untuk pemotretan siang hari, yang mempengaruhi kualitas cahaya matahari adalah posisi matahari, keadaan awan, dan cuaca.

1. Cahaya langsung (direct light)

Cahaya langsung adalah cahaya yang datang langsung dari sumber cahaya tanpa hambatan dan tanpa dipantulkan. Sifatnya keras dan menghasilkan bayangan tajam. Cahaya langsung terjadi ketika matahari bersinar terang dengan langit tidak berawan sehingga cahaya matahari

jatuh langsung menimpa subjek. Bagian yang Tertimpa sinar biasanya menghasilkan bayangan yang kuat, bersifat Satu Arah  -, dan memiliki berkas cahaya kuat dengan kontras yang mencolok antar Bagian  bagian yang

terkena sinar matahari dan yang tidak.

Pada saat itu, biasanya kecerahan cahaya datar. Dengan demikian, sulit sekali diharapkan munculnya penampilan yang baik dari hasil pemotretan.Jadi, dari jenis cahaya ini hanya diperoleh gambar dengan mutu teknis baik, tetapi sulit mendapatkan dimensi yang memadai.

Jenis cahaya ini tidak ideal untuk pemotretan manusia (portraiture) yang mengutamakan detail dan kelembutan. Dalam praktek pemotretan, perlu dipertimbangkan apakah keberadaaan bayangan akan mengurangi nilai foto atau menjadi sesuatu yang memperkuat foto. Untuk mengurangi bayangan yang tidak dikehendaki, Anda dapat menggunakan reflektor (pemantul) cahaya yang diarahkan ke bagianbagian yang gelap atau bayangan.

2. Cahaya tidak langsung (indirect light)

Cahaya tidak langsung terjadi ketika cahaya matahari tertutup awan, cuaca berkabut, atau banyaknya debu di udara sehingga cahaya menjadi terdifusi/baur. Pada kondisi ini, cahaya datang dari banyak arah, menghasilkan cahaya yang lembut dan merata dengan nada warna (tone) yang halus (gradual).

Efek yang terjadi adalah bayangan menjadi lebih lembut dan bagian yang terkena cahaya juga mengalami pengurangan intensitas. Banyak orang berpikir, ini bukan saat yang tepat untuk melakukan pemotretan. Namun, ini merupakan kesempatan baik untuk melakukan pemotretan portraitatau benda-benda  yang mengutamakan detil dan kejelasan bentuk dari segi volume, ukuran, dan warna.

Saturday, September 9, 2017

Cara Mengambil Foto yang baik dan menarik [Seni Fotografi]



Foto yang baik belum tentu menarik, sedangkan foto yang menarik adalah foto yang baik. Perdebatan yang sering mencuat dalam fotografi adalah tentang konsep foto yang baik dan menarik. Banyak pakar fotografi saling menawarkan konsepnya, tetapi hingga kini belum didapatkan titik temu apa dan bagaimana foto yang baik itu?

Kalangan awam yang umumnya memotret dengan kamera kompak atau kamera saku akan berpendapat foto yang baik adalah foto yang jelas dan gambarnya tajam. Komposisi objek harus di tengah, wajah yang dipotret terlihat ceria, ataupun menyenangkan yang dipotret dan pemotret jika tidak memenuhi semua itu atau salah satu di antaranya, kalangan awam menganggap foto tersebut tidak baik atau jelek.

Pendapat kalangan awam bahwa foto yang baik adalah foto dengan komposisi objek harus di tengah dan horizontal disebabkan oleh terbiasanya orang melihat langsung ke bagian tengah. Jika objek berada di pinggir, akan terasa asing di mata dan kurang enak dilihat.

Sebaliknya, kalangan peminat fotografi serius selalu bereksperimen dalam komposisi foto. Meskipun sebenarnya di antara mereka pun masih timbul perdebatan tentang komposisi. Ada yang memandang suatu objek lebih baik dan indah jika dibuat dengan komposisi horizontal, tetapi ada pula yang berpendapat sebaliknya. Perdebatan ini disebabkan selera dan kebiasaan masing-masing pihak.

Demikian pula dalam masalah pencahayaan. Kalangan awam hanya

mengandalkan lampu kilat yang terpasang langsung pada kamera

kompak. Mereka tidak pusing apakah cahaya itu berlebihan atau kurang karena percaya pada kerja automatis kamera.

Bagi kalangan peminat serius fotografi, pencahayaan merupakan faktor yang sangat penting. Bukankah inti fotografi adalah pemanfaatan cahaya? Banyak teori tentang pencahayaan. Pencahayaan dari arah depan, belakang, samping, atas, atau bawah objek, serta pencahayaan alami dan buatan. Masing-masing pencahayaan akan memunculkan kesan tersendiri bagi sebuah foto.

Pemotret yang biasa memanfaatkan cahaya alami akan melihat foto berpencahayaan buatan kurang baik sehingga mereka kurang puas dengan hasil yang didapatkan dan ini juga berlaku sebaliknya. Masing masing mempunyai ukuran sendiri.

Pada awalnya, penggunaan efek khusus mempesona banyak pengs gemar fotografi. Namun, kemudian muncul perdebatan karena efek khusus menjadikan foto tidak lagi tampil jujur dan alamiah. Padahal, salah satu hingsi foto adalah sebagai saksi suatu peristiwa dan keadaan di suatu masa.

Bagi peminat serius fotografi, foto adalah seni sehingga persyaratan untuk disebut sebagai foto yang baik tidak lagi menjadi sederhana. Untuk mendapatkan hasil foto yang baik, selain persyaratan teknis diperlukan juga persyaratan nonteknis. Persyaratan teknis adalah syarat yang harus memenuhi kaidah fotografi, seperti pengaturan diafragma, kecepatan/ rana, dan pemilihan kepekaan film dalam menerima cahaya yang diukur dalam International Standard Organization (ISO)/American Standard Association (ASA) film. Persyaratan itu juga disebut sebagai unsur intrinsik.

Persyaratan nonteknis merupakan syarat pengetahuan yang harus dimiliki fotografer di luar persyaratan teknis ketika akan mengambil tema atau objek tertentu. Misalnya, seorang fotografer yang akan mengambil tema tentang bangunan maka ia harus menguasai masalah arsitektur. Persyaratan tersebut juga disebut sebagai unsur ekstrinsik.

Dari sinilah terlihat perbedaan antara kalangan awam dengan peminat fotografi serius tentang apa dan bagaimana foto yang baik.

2. Pendapat fotografer profesional tentang foto yang baik Berikut ini diuraikan beberapa pendapat fotografer profesional tentang foto yang baik yang dikumpulkan dari berbagai media massa. Edwin Djuanda, fotografer profesional, menyatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang enak dilihat, biasanya merupakan hasil dari:

pemotretan yang kebetulan (lucky/shot) dan

b. pemotretan yang sudah direncanakan (pada saat memotret, fotografer sudah mengetahui bagaimana kira-kira hasil akhir pemotretannya).

Untuk menjadi foto yang enak dilihat, diperlukan faktor penunjang. Faktor penunjang tersebut di antaranya komposisi, pencahayaan, ketajaman (jika memang diperlukan karena terkadang ada beberapa bagian foto yang memang tidak perlu terlihat tajam), dan ketepatan momen. Semuanya ini harus dipelajari serta dituntut pengetahuan dan keterampilan fotografer untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Paul I. Zacharia membagi-bagi foto ke dalam berbagai kategori. Untuk foto jurnalistik, Paul menganggap ketepatan saat menjepretkan kamera akan membedakan satu foto yang bagus dengan foto yang biasa-biasa saja. Foto pemandangan alam akan lebih mengutamakan kehalusan butir filmnya dan foto dokumentasi mengutamakan ketajaman gambar di segala bagian foto. Selain itu, Paul menekankan perlunya ide dalam sebuah foto. Ide dalam menciptakan sebuah foto adalah hal yang paling jarang muncul pada karya-karya pemula.

Menurut Hani Moniaga, Visi seorang fotografer akan membuat karyanya berbeda dengan karya orang lain dan tidak menjadi sekedar pengikut. Visi adalah ide yang orisinal dan didapat dari pengalaman setelah memotret beberapa waktu. Bagi Hani Moniaga, teknik fotografi yang meliputi pencahayaan, mutu cetak, dan komposisi bisa menjadi nomor dua, sementara ekspresi sang foto sendiri menjadi hal yang paling utama.

Pada saat merencanakan pemotretan, fotografer hendaknya memperlakukan model sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek. Objek memberikan pengertian pada keseluruhan yang bisa dilihat oleh mata telanjang atau sesuatu untuk dieksploitasi. Subjek mengacu pada sesuatu yang sudah dibingkai pada jendela bidik (sudah di-framing), dan Anda membiarkannya tetap berjiwa (tidak menjadikannya berdasarkan kemauan Anda). Pengertian subjek pun tidak selalu untuk makhluk hidup. Pemandangan alam pun jika dilihat melalui kamera, seharusnya diperlakukan sebagai subjek, bukan objek.

Darwis Triadi, Ketua Asosiasi Fotografer Profesional Indonesia (APPI), mengatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang secara tekn s

bagus dan memenuhi syarat-syarat estetika.]adi, definisi foto yang baik
sangat relatif dan menyangkut selera. Namun, foto yang baik pada dasarnya harus memiliki dasar teknik dan mempunyai nilai estetika. Edwin Rahardjo berpendapat bahwa definisi foto yang bagus itu tidak ada. Menurutnya, sebuah foto yang bagus bagi satu orang, bisa saja buruk bagi orang lain sehingga pendapat terbanyak yang akan memenangkan suatu definisi. Cara yang paling mudah untuk mendapatkan ketegasan apakah sebuah foto bagus atau tidak adalah dengan meminta pendapat beberapa orang yang mengerti seni atau memang berpengalaman untuk itu. Berdasarkan berbagai pendapat di atas, tampaknya tidak ada kesamaan pendapat mengenai baik dan tidak baik-nya sebuah foto. Hal inilah yang memang akan selalu terjadi. Namun, untuk menengahi berbagai pendapat tersebut, Aslam Subandi menyatakan bahwa foto yang baik adalah foto yang memenuhi kriteria berikut. a. Enak dilihat (pendapat Edwin Rahardjo). b. Mayoritas pendapat yang “mengerti” menyatakan foto tersebut memang foto yang baik. Ini berlaku umum pada lomba-lomba foto, saat mayoritas juri menyatakan foto tersebut baik (pendapat

Edwin Rahardjo).

Thursday, August 31, 2017

Seni Fotografi [Mengenal Fotografi Lebih Dalam] - Ilmu Multimedia




Fotografi merupakan sebuah media yang digunakan untuk mendokumentasikan suatu momen penting. Dengan fotografi, semakin panjang langkah kaki, semakin banyak pengalaman yang bisa diingat. Kenangan demi kenangan akan terpatri dalam hati dan jiwa. Melalui sebuah foto, keindahan kenangan tidak akan lekang oleh zaman dan tidak pernah hapus dari ingatan. Ingatan Anda akan melayang menembus ruang dan waktu, mulai dari masa bayi yang lucu dan menggemaskan, saat melewati nakalnya masa kanak-kanak, sampai 

semaraknya suasana pernikahan.

Foto selalu menarik untuk dilihat atau diamati. Selain lebih mudah diingat dibandingkan tulisan, sebuah foto mempunyai nilai dokumentasi yang tinggi karena mampu merekam sesuatu yang tidak mungkin kembali, apakah itu tentang cerita pribadi, keluarga, keindahan alam, atau peristiwa seni budaya. Melalui foto juga, orang bisa terpikat pada suatu objek berita, produk olahraga, makanan, minuman, sampai hasil industri. Oleh karena itu, lahirlah ungkapan foto mampu berbicara lebih dari seribu kata. 

Menikmati hasil foto yang baik (menarik) memang mengasyikkan. Akan tetapi, untuk menghasilkannya tentu memerlukan perencanaan dan konsep yang baik. Setiap orang pasti dapat menjepretkan kamera dan merekam objek untuk difoto, tetapi tidak jarang foto yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sangat disayangkan apabila sebuah momen, khususnya yang jarang terjadi, difoto seadanya tanpa memperhitungkan segi teknis dan nilai artistik. 

Untuk memperoleh foto-foto yang menawan, memang diperlukan kemahiran (keterampilan) teknis. Hal ini tidak bisa dihindari karena seluruh proses fotografi dibuat menurut prosedur kerja teknis. Namun, kemampuan dan kemahiran teknis fotografi tidaklah cukup dengan sekedar kemampuan mengendalikan kamera, menentukan lensa, meng

gunakan pengukur cahaya, serta mengatur diafragma dan kecepatan 

rana. 



Pengetahuan seperti itu hanya bisa menghasilkan foto-foto yang mutu teknisnya baik, tetapi tidak otomatis memiliki nilai artistik. Mutu teknis tergantung pada teknologi/ teknik fotografi (peralatan fotografi, proses cuci cetak foto, dan material foto), sedangkan mutu artistik (visual) sangat dipengaruhi oleh pengertian dan kepekaan fotografer tentang bagaimana memandang subjek dan mendapatkan daya tarik yang optimal, komposisi yang akan ditampilkan, serta bagaimana menampilkan suasana yang diinginkan. 

Dengan kata lain, pembuatan foto tergantung pada teknologi, tetapi hasil akhir gambar yang mengandung nilai estetika lebih banyak mengikuti kaidah-kaidah seni rupa. Masalahnya, kedua aspek yang berlainan ini harus dilaksanakan dalam proses yang sama, yaitu proses teknologi fotografi. 

Jadi, fotografi adalah perpaduan antara teknologi dan seni. Berbagai nilai estetika yang tidak tercakup dalam teknologi fotografi 

harus diselaraskan dengan proses teknis untuk memberikan karakter dan keindahan pada hasil visualnya. Hal tersebut memang tampak lebih rumit dan mungkin dapat menjadi masalah yang sering tidak disadari banyak orang. Hal ini jugalah yang dapat menjadi sebab mengapa mempelajari fotografi tampak menjadi lebih sulit, khususnya untuk menghasilkan karya foto yang dapat dibanggakan.